Rabu, 20 Juni 2012

JALAN KEBENARAN (Dari Alamat Sughro Ke Kubro) Bab.2




BAB : II

1.    PENGALAMAN HUSNAN YANG MISTERIUS

Husnan, nama asalnya Asnan adalah penduduk Kupang Gunung Surabaya, seorang biasa keturunan rakyat kecil di desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur.

Ia dibesarkan dalam miliu santri, sejak kecil belajar mengaji dan terutama mendalami ilmu tauhid yang merupakan dasar pokok ajaran Islam. Orang tuanya tergolong orang yang tidak mampu bernama Husein berasal dari daerah Demak, Propinsi Jawa Tengah.

Untuk memperdalam ilmu agama, oleh orang tuanya ia disekolahkan madrasah di desa yang dekat rumahnya sejak tahun 1949 sampai 1954 yakni Tebuireng Jombang. Setelah dewasa ia dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Sholihatin binti Sholihin dari desa Ponokawan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo yaitu pada tahun 1959. Selang beberapa tahun Husnan dengan isterinya pindah ke Surabaya tinggal di Gubeng Sawah, kemudian pada tahun 1962 pindah lagi ke Kupang Gunung.

a.       Peristiwa pertama terjadi.

Pada suatu malam dalam suasana sunyi sepi, waktu itu tanggal 12 April 1963 tengah malam tepat hari Jum’at Pon, waktu itu Husnan belum tidur ; mendadak kedatangan empat orang laki – laki yang berpakaian serba putih berwajah bagus bercahaya, rambutnya tersisir rapi, belum pernah ia melihat orang – orang setampan itu, masuk ke dalam rumahnya tanpa membuka pintu dan ternyata pintu masih dalam keadaan tertutup.

Salah seorang diantara mereka memeluk dirinya erat – erat. Dalam keadaan takut yang amat sangat, ia mendengar kata – kata yang diucapkan oleh orang tersebut : “Suaramu akan saya ambil, sebentar lagi engkau menjadi bisu”. Orang tersebut menurut abah Thoyib adalah Nabi Dawud. Sejurus kemudian mereka pergi.

Dengan tergopoh – gopoh ia segera membangunkan isterinya dan masih sempat berkata bahwa baru saja ada tamu misterius, dan berkata bahwa tidak lama lagi ia akan bisu. Setelah berkata begitu ia lalu pingsan. Dalam keadaan kebingungan isterinya menggerak – gerakkan tubuh suaminya sambil berdoa sejadi – jadinya. Setelah sadar ternyata suaminya benar – benar bisu.

Pagi harinya berkerumunlah orang – orang di rumah Husnan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Melihat keadaan fisiknya tetap sehat, panca indranya baik semua, hanya saja ia tak dapat berbicara. Menurut penjelasan abah Toyib (seorang wali di Kemayoran, Surabaya), bahwa tamu yang datang pada malam Jum’at yang lalu itu ialah seorang malaikat, nabi Dawud dan dua orang wali Allah.

Pagi hari itu juga khabar tersebut telah tercium oleh para wartawan, sehingga rumahnya menjadi penuh sesak oleh orang – orang yang berdatangan ingin mengetahui kejadian sebenarnya. Para wartawan banyak mengajukan pertanyaan dan bermacam – macam. Dengan sabar ia menjawab secara tertulis menurut apa adanya, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Begitu cepat khabar tersiar dimana – mana, malahan foto Husnan sekeluarga dimuatnya juga.

Di antara orang – orang itu ada yang mengatakan bahwa bisunya itu dibuat – buat yakni berpuasa bisu, ada pula yang berpendapat bahwa bisunya ada sangkut pautnya dengan kuburan dan sebagainya, karena memang Kupang gunung itu komplek kuburan Cina. Dugaan orang – orang tersebut dibantah oleh Husnan, bahwa bisunya itu tidak ada sangkut pautnya dengan kuburan dan sebagainya.

Ia ditimpa musibah itu bukan main susahnya. Keluarganya, orang tua dan sanak familinya, semuanya berusaha dengan sekuat tenaga mencarikan obat.

b.       Usaha penyembuhan.

Dalam usaha mendapatkan kesembuhan telah dilakukan dengan berbagai cara, nasehat atau fatwa orang – orang tua diikutinya. Ia telah diperiksa oleh sembilan orang dokter, dua professor, sehingga menghabiskan beaya tidak kurang dari Rp.46.000,-(empat puluh enam ribu rupiah). Mereka memeriksa dengan teliti sekali, namun belum memperoleh hasil. Malah ada diantara dokter yang mengatakan bahwa ia tidak ada gangguan penyakit, organ – organ tubuh baik semua, ia sehat – sehat saja.

Setelah berobat secara medis tidak memperoleh hasil, maka ia berikhtiar melalui para ahli kebatinan dan para ulama, yang insya Allah dari mereka ia memperoleh kesembuhan harapannya.

Di samping ia sendiri mencari pengobatan, mertuanyapun tidak tinggal diam, diusahakannya pula obat kepada mbah Sahlan Krian dan mbah Hudlori Mojoagung. Dari mbah Sahlan tidak diperoleh sesuatu apapun, baik berupa obat ataupun petunjuk – petunjuk. Dari mbah Hudlori diperoleh sebuah botol berisi air hujan salah musim yang telah lama disimpannya, sambil berkata : “Engkin sonten kulo ngriko tiang kalih”(Nanti malam saya datang berdua kesana, yakni ke rumah Husnan).

Siang itu juga mertuanya kembali ke Surabaya, menyampaikan pesan mbah Hudlori sambil menyerahkan obat hasil usahanya. Obat itu supaya diminum dan sisanya diusapkan ke seluruh tubuhnya sesuai dengan petunjuk yang diterimanya.

c.        Peristiwa kedua.

Pada malam itu juga tercatat tanggal 25 April 1963 jam 21.00 kebetulan malam Jum’at Paing, benar – benar Husnan menerima tamu ; bukannya dua orang saja bahkan lima orang. Yaitu mbah Hudlori, abah Toyib, mbah Sahlan, mbah Abas dan Raden Muhammad Surya Alam alias mbah Bun. Orang – orang tersebut sudah banyak dikenal terutama oleh sebagian masyarakat Islam Jawa Timur, bahwa beliau – beliau itu tergolong aulia.

Pada waktu itu yang dikenal betul oleh Husnan Cuma mbah Sahlan dan abah Toyib, sedangkan yang lainnya belum. Kedatangan mereka itu secara mendadak lagi misterius. Begitu datang begitu sudah di ambang pintu rumahnya. Ketika mengucapkan salam, seisi rumah mendengarnya dan menjawab serentak, Husnan, isteri dan mertuanya. Akan tetapi yang dapat melihat tamu –tamunya itu hanyalah Husnan. Oleh karena isteri dan mertuanya tidak dapat melihat tamunya, maka kursi yang telah diduduki oleh abah toyib akan diduduki oleh mertuanya, sedang isterinya tetap berdiri dimuka pintu kamar dimana di sebelah kanannya duduk mbah Sahlan. Ia menyuruh isteri dan mertuanya supaya masuk saja ke dalam kamar.

Tamu – tamu tersebut berpakaian jubah serba hijau. Dalam keadaan gementar karena takutnya, ia dapat berbicara lancar dengan tamunya itu. Hal tersebut didengar pula oleh keluarganya. Salah seorang tamunya yaitu mbah Abas yang waktu itu belum dikenal memberi perintah kepadanya supaya :

1.           Membeli sebuah kitab suci Al-Qur’an lagi.
2.           Isterinya disuruh membaca Al-Qur’an sebanyak 60.000.000 huruf Al-Qur’an, sedang ia sendiri diharuskan menyemaknya.
3.           Ia disuruh supaya segera berziarah ke rumah tamu – tamunya yang pada malam itu datang di rumahnya.

Setelah perintah tersebut disampaikan kepada Husnan, tamu – tamu itu terus pergi. Pada waktu itu ia sudah dapat berbicara lancar, tetapi sebentar kemudian ia tak mampu berbicara lagi, meskipun mertua memaksanya untuk terus berbicara, namun sia – sia.

2.    MELAKSANAKAN PERINTAH.

Pertama – tama yang dilaksanakan ialah membeli sebuah kitab suci Al-Qur’an ; untuk ini ia tidak perlu lagi membeli, sebab ustadz Nur Qomari dari keputran telah menghadiahkan kepadanya sebuah Al-Qur’an.

Setelah mempunyai sedikit uang untuk ongkos bepergian, maka pada tanggal 28 April 1963 jam 17.00 lebih dahulu ia berziarah kepada abah Toyib di Kemayoran III/10 Surabaya. Ia diberi selembar kertas kecil bertuliskan sandi sambil berkata : “Hasil, hasil, hasil”, lalu ia disuruh segera berangkat ke Banyuwangi karena telah ditunggu.

Pagi harinya setelah sholat Shubuh, ia berangkat seorang diri menuju stasiun Semut, meskipun istrinya mencegah untuk bepergian seorang diri, namun ia memaksanya juga. Di pertigaan jalan Banyu urip Girilaya di tempat parkir becak, ia menunjuk sebuah di antaranya dengan memberi isyarat telunjuknya ke arah utara dan memperlihatkan tujuh buah jari tangannya, yang dimaksud menunjukkan tempat yang dituju berikut ongkosnya. Rupanya tukang becak itu mengerti apa yang dimaksud lalu jawabnya : “Semut ?”. Ia menganggukkan kepala dan selanjutnya dipersilahkan naik.

Meskipun masih pagi buta suasana di dalam stasiun Semut sudah ramai. Orang antri karcis di depan loket berjubel – jubel, iapun ikut antri juga. Setibanya di muka loket ia tidak sempat menulis karena sesaknya, maka langsung saja mengulurkan uangnya ratusan selembar tanpa berkata sepatah katapun. Tetapi anehnya si penjual karcis itu tidak bertanya malah seakan – akan telah mengetahui tempat yang dituju. Penjual karcis itu dengan acuh tak acuh menyerahkan kepadanya sebuah karcis Kalisetail yaitu nama sebuah halte di mana ia harus turun, serta mengembalikan uang kelebihannya sesuai dengan sisa harga karcis tersebut.

Setelah memperoleh karcis segera ia masuk menuju deretan kereta jurusan Banyuwangi yang telah tersedia. Salah satu gerbong kereta yang dimasuki itu, orang sudah berjejal – jejal mencari tempat duduk. Di suatu sudut dilihatnya seperti seorang pegawai kereta api memanggil dan mempersilahkan kepadanya supaya duduk di sampingnya. Tentu saja tawaran itu diterimanya dengan senang hati. Pada waktu membeli kuwih – kuwih maupun minuman, ia diberinya juga tanpa mengucapkan sepatah katapun. Di dalam perjalanan yang lamanya hampir sehari penuh, tidak ada perkataan satu kalimatpun yang diucapkan oleh pegawai kereta api itu dan membiarkan Husnan berdiam diri.

Sampai di halte Kalisetail sekira jam 16.00 ia turun seorang diri. Setibanya di luar ia dijemput oleh seorang kusir dokar yang nampaknya menunggu kedatangannya seraya berkata : “Mas, kulo ajeng teng Genteng, wong griyo kulo Maron ngriku, mangke Genteng ngetan titik, enten kuburan ngidul titik empun Cangaan” (Mas, saya akan ke Genteng, orang rumah saya di Maron situ, nanti sampai di Genteng berjalan ke timur sedikit, sesudah kelihatan kuburan kemudian belok ke selatan sedikit, itulah desa Cangaan). Ia hanya menganggukkan kepala saja sambil mengingat – ingat pesannya.

Sampai di Genteng ia turun dan menyerahkan selembar uang seratus rupiah untuk ongkos dokar. Oleh karena ongkosnya Cuma Rp.40,- maka ia menerima pengembalian sebanyak Rp.60,-. Sebelum ia meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki ke Cangaan, lebih dulu ia singgah di masjid Genteng untuk melakukan sholat Dhuhur dan Ashar. Selesai sholat ia meneruskan perjalanan ke Cangaan sesuai petunjuk kusir dokar tersebut, yaitu tempat tinggal mbah Abas yang telah memberikan perintah kepadanya secara gaib pada beberapa hari yang lalu.

a.     Kampung Cangaan.

Cangaan adalah merupakan sebuah kampung di mana kelurahannya ikut Genteng Wetan. Di situ berdiri sebuah masjid yang cukup besar bahkan lebih besar dari masjid Genteng. Setiap waktu penuh orang melakukan sholat berjama’ah, baik Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ maupun Subuh. Justru penduduk Cangaan terkenal giat berjama’ah.

Di kampung tersebut bermukim seorang ulama besar yang sangat disegani bernama mbah Abas. Beliau berjanggut tipis keputih – putihan, berwajah tampan persis seperti apa yang dilihatnya pada waktu beliau datang ke rumahnya. Konon usianya sudah lebih dari seratus tahun.

Sampai di Cangaan ia langsung menuju masjid dan tinggal di situ sampai selesai jama’ah Maghrib dan Isya’. Ia mendapat keterangan dari orang kampung tersebut, bahwa mereka mendapat perintah dari mbah Abas tidak boleh tidur selama 3 hari, karena sebentar lagi akan kedatangan tamu dari Surabaya yang kukunya panjang – panjang dan berjanggut. Yang dimaksud tamu itu tidak lain ialah abah Toyib.

Yang ditunggu justru tidak kunjung tiba, malahan yang datang adalah Husnan dan dalam keadaan bisu. Ia dikerumuni orang banyak, disangka dialah yang dimaksud oleh mbah Abas itu, padahal sebenarnya bukan dia. Mungkin abah Toyib itulah orang yang mendampinginya di dalam perjalanan tersebut dan telah bertemu dengan mbah Abas langsung di rumahnya secara diam – diam. Pada malam itu juga ia bermalam di rumah seorang kenalannya bernama Jaelani yang dahulu pernah jadi tetangganya di Gubeng Sawah Surabaya.

  b.  Menghadap mbah Abas.

Pagi – pagi benar Husnan sudah bangun dan ikut berjama’ah. Selesai membaca wirid ia beserta para jama’ah lainnya mendapat kesempatan dan bersalaman dengan mbah Abas, memang begitulah kebiasaan yang berlaku di situ.

Tercatat tanggal 30 April 1963 jam 05.30 mbah Abas segera pulang ke rumahnya yang terletak agak jauh sebelah timur masjid, sedang ia pulang ke rumah Jaelani yang terletak jauh di sebelah barat masjid. Dalam perjalanannya ke rumah Jaelani, tepat di belakang masjid, mendadak seperti tampak mbah Abas berdiri di depannya antara jarak satu meter sambil menuding pada dirinya seraya berkata : “Iftah qouli Asnan”/(Bukalah suara Asnan), waktu itu namanya belum diganti, yang memberi nama Husnan justru mbah Abas sendiri. Setelah mengucapkan kalimat tersebut tiba – tiba mbah Abas lenyap dari pandangan matanya. Dengan spontan keluarlah dari mulutnya kalimat istighfar berkali – kali, sedang Jaelani yang berjalan di sampingnya yang tidak mengetahui apa – apa, ketika mendengar temannya telah dapat membaca Astaghfirullah berkali – kali segera memeluk dan menciuminya sebagai curahan rasa gembira. Dengan tidak terasa air mata meleleh di pipi mereka berdua.

Selesai makan pagi di rumah Jaelani, antara jam 08.00 mereka berdua menghadap mbah Abas di rumahnya. Ia dipersilahkan duduk yang pada saat itu ia telah sembuh dari bisunya. Sambil bangkit dari duduknya, mbah Abas berkata : “Engkin sik kulo mendet kitab” (Tunggu sebentar saya akan mengambil kitab). Setelah keluar dengan membawa kitab, beliau berkata lagi : “Lha niki nopo kulo goleki nembe ketemu” (Lha ini apa saya cariin baru saja ketemu). Lalu beliau bertanya : “Sampeyan pundi ?” (Engkau dari mana ?). Jawabnya : “Kupang Gunung Suroboyo mbah” (Kupang Gunung Surabaya mbah). Kemudian mbah Abas menceritakan silsilahnya, bahwa beliau itu adalah keturunan Kanjeng Sunan Giri ke 15 dan sampai kepada Rosululloh SAW. Turun ke 27, sedang mbah nyai Abas adalah keturunan Kanjeng Sunan Ampel ke 16. Kedua Sunan tersebut adalah termasuk diantara wali sembilan yang sangat terkenal di negeri kita ini.

Husnan dijamu mbah Abas menurut ala kadarnya ; setelah agak cukup lama, ia memohon ijin untuk menghadap mbah Bun. Oleh mbah Abas diikut sertakan dua orang santrinya ialah Jaelani dan Marjuki. Sementara itu ia diberi wasiat sebagai berikut :

1.           Sampeyan tebihi ma’siat (jauhilah perbuatan dosa).
2.           Sembahyang niku sae – saene ngibadah dateng Gusti Allah (sholat adalah sebaik – baik ibadah kepada Allah).
3.           Rembagipun tiang sepuh niku leres, niku tiang sae, niku tiang suci (Perkataan orang tua itu yakni mbah Bun adalah benar, beliau adalah orang baik, beliau adalah orang suci).
4.           Sampeyan angsal pitulungane Gusti Allah (Engkau mendapat pertolongan Allah).
5.           Sampeyan diganjar bisu Pengeran niku, kersane sumerep ngriki (Engkau mendapat penyakit bisu itu, agar supaya mengetahui tempatku ini).
6.           Untung sampeyan, sembahyang mawon ingkang kathah (Beruntung kamu,    sembahyanglah yang banyak).

b.         Menghadap mbah Bun.

Seperti kita ketahui bahwa rumah kediaman mbah Abas itu terletak di sebelah barat kota Banyuwangi kurang lebih 30km, sedangkan rumah kediaman mbah Bun adalah di sebelah barat Glenmore.

Mereka bertiga berangkat menghadap mbah Bun dengan berkendaraan sepeda. Rumah beliau jauh di pelosok dan hanya bertetangga dengan orang – orang persil suku Madura. Rumahnya terdiri dari sesek dan di depannya sebelah kiri berdiri musholla. Bangunan tersebut adalah sumbangan dari mbah Abas yang dikerjakan santri – santri Cangaan. Di samping isterinya, mbah Bun juga mempunyai seorang pembantu bernama Rivai yang termasuk santrinya mbah Abas juga.

Di rumah itulah Husnan diwejang oleh mbah Bun yang langsung ditulis di hadapannya. Memang sengaja ia membawa buku tulis dari rumahnya yang diperkirakan mungkin ada faedahnya selama ia dalam perjalanan. Adapun wejangannya sebagai berikut :

1.     Kuburan guk latar masjid Kupang Gunung leteren sing apik, kowe mesti menang (Kuburan yang di halaman masjid Kupang Gunung agar dileter yang bagus, kamu pasti menang).
2.     Permulaan masjid Kupang Gunung sampeyan mulai wulan Besar (Pembangunan masjid Kupang Gunung kamu mulai pada bulan besar/haji).
3.     Bangun masjid boten sembarangan(membangun masjid tidak semudah itu/sembarangan)
4.     Ketip niki sampeyan salap soko guru minangka jimat, sebab bade wonten bledeg ageng (Koin ini kamu taruh di soko guru sebagai jimat, sebab akan ada prahara besar).
5.     Bangun masjid niruo masjid Cangaan, masjid Cangaan meniru masjid Demak(Bangun masjid tirulah masjid Cangaan, masjid Cangaan itu meniru masjid Demak).
6.     Panitia masjid saerep wali songo, enten sing icake laknat, banjur saniki ketrimo nek terus ngibadah(Hendaklah panitia masjid mirip wali songo, ada yang bekas bajingan, lalu akhirnya diterima taubatnya karena terus beribadah).
7.     Konco sampeyan badhe ngriki, rombongan sampeyan sing mulai. Guru, jundi, ulama lan ulama ingkar (Temanmu akan ke sini, rombongan kamu dulu yang memulai. Guru, tentara, ulama dan ulama ingkar).
8.     Kengken noto percayane kangge sejarah, kulo niki Semar (Suruh menata percayanya untuk sejarah, saya ini Semar).
9.     Tahun 1968 sopo wong sing tetap sembahyang slamet donya akherat, sebalike ajur keserang penyakit geden – gedenan, dibendu Gusti Allah(Tahun 1968 siapa orang yang masih sembahyang[beriman] selamat dunia akhiratnya, sebaliknya jika tidak maka akan hancur terserang penyakit besar – besaran[parah/mati imannya dan mudah melakukan kemaksiatan]dimurkai oleh Allah.
10. Sampeyan diganjar bisu kalih Pengeran niku supados sumerep daleme mbah Abas lan sumerep ngriki (Kamu diberi bisu oleh Alloh itu supaya tahu rumahnya mbah Abas dan tahu sini).
11. Percayane sampeyan toto, supados selamet donya akherat(Imannya kamu tata, supaya selamat dunia akhirat).

              Ulama salaf berkata :

1.           Tandanya orang terserang penyakit besar – besaran, ialah orang yang melupakan Tuhannya, tidak merasa bahwa ia adalah titah-Nya. Meskipun ia meyakini, namun apabila ia tidak mengikuti Rosululloh SAW. Tidak taat kepada Allah, maka hukumnya lupa juga.
2.           Tandanya orang terserang penyakit besar – besaran, ialah orang yang mengabaikan ilmu ajaran Rosululloh SAW, menyia – nyiakan guru yang sempurna (mursyid) bahkan gemar melakukan perbuatan jahat dan melanggar hukum – hukum Alloh SWT.
3.           Tandanya orang terserang penyakit besar – besaran, ialah orang yang menuruti kehendak nafsunya, takut jatuh miskin, takut kelaparan dan enggan beribadah.

Ø              Masih teringat dawuhnya mbah H.Ilyas seorang wali Benowo Surabaya : “Tahun 1964 mblenger, tahun 1965 mendem, tahun 1970 embuh ora weruh”(Tahun 1964 jenuh, tahun 1965 mabuk, tahun 1970 sudah tidak tahu). Yakni keadaan tingkah laku penghuni dunia dilihat dari kacamata agama.

Ketika berkunjung ke rumah mbah Bun, merekapun dijamu makan menurut apa adanya di desa itu. Dalam pertemuan yang cukup lama itu, Husnan sempat juga berwawancara dengan mbah Bun dan langsung dicatat di hadapan beliau sebagai berikut:

1.     Mbah Bun manggen ngriki nopo sampun dangu ?. – Ooo kulo manggen ngriki dereng enten tiang.(Mbah bun tinggal disini apa sudah lama ?. – Ooo saya tinggal disini waktu belum ada orang).
2.     Panjenengan kegolong umat nopo ?. – Ummat Jan. (Mbah tergolong umat apa ?. – Ummat Jan).
3.     Ngantos samangke sampun yuswo pinten ?. – 3500 tahun. (Sampai sekarang sudah berumur berapa ?. – 3500 tahun).
4.     Kulo angsal keterangan saking santri – santrine mbah Abas kok 1800 tahun ?!. – Ooo, niku rak jare ahli falak. (Saya mendapat keterangan dari santri – santrinya mbah Abas kok 1800 tahun ?!. – Ooo, itu khan katanya ahli falak).
5.     Perlu punopo panjenengan diturunaken wonten ngalam donya niki ?. – Niku, kangge ngamanaken nggih kangge ngemong anak putu Adam. (Untuk perlu apa mbah diturunkan di alam dunia ini ?. – Itu, untuk mengamankan dan untuk mengasuh anak cucu Adam).
6.     Garwo panjenengan niku sinten ? – Sampeyan kulo critani, yen mbah putri sampeyan niku anake bupati Medunten, asale digondhol jin. Terus bupati wau adeg sayemboro. Kawusono kulo sing saged nemokaken, lajeng kulo dikengken ngawin. Kulo gelut kalih jin pinten – pinten ewu, tapi nggih saged ngrebut putri, mbah sampeyan niku. (Isteri mbah itu siapa ? – Kamu saya beritahu, kalau mbah putrimu itu anaknya bupati Madura, asalnya dibawa jin. Terus bupati tadi menyelenggarakan sayembara. Akhirnya mbah yang bisa menemukan, lalu mbah disuruh menikahi. Mbah berkelahi dengan jin ribuan, tapi ya bisa merebut mbah putri, mbah kamu itu).
7.     Gelut kalih jin ewonan nopo mboten kuwalahen mbah ? – Nek kulo antemi nggih kuwalahen, mlajenge kulo entuti. (Berkelahi dengan ribuan jin apa tidak kewalahan mbah ? – Kalau saya pukuli ya kewalahan, akhirnya saya kentuti).
8.     Panjenengan nderek agami nopo ? – Kulo nderek agami Islam, nek biyen agomo Jowo tunggale Hong Wilaheng niko. (Mbah ikut agama apa ? – Saya ikut agama Islam, kalau dulu agama Jawa seperti Hong Wilaheng itu).
9.     Belajar agami Islam dateng pundhi mbah ? – Kulo belajar agomo Islam teng nggene Patah. (Belajar agama Islam di mana mbah ? – Saya belajar agama Islam di tempatnya Patah[Raden Patah]).
10. Menawi mekaten rak nate mondok teng Demak ? – Mboten nak, nduduk saking ngriki mawon, wong kilen ngriku bloko. (Kalau begitu pernah mondok di Demak ? – Tidak nak, nggali dari sini saja, orang barat(Demak) itu jelas keliatan).
11. Panjenengan nopo kagungan sederek ingkang slamet donya akherat ? – Gadah, nggih niku Raden Gagak Antogo sing jange dadi wakil ratu adil, manggen alas Purwo Banyuwangi. (Mbah apa punya saudara yang selamat dunia akhirat ? – Punya, ya itu Raden Gagak Antogo yang bakal jadi wakil ratu adil, menempati alas Purwo Banyuwangi).
12. Masjid Kupang Gunung dibangun ping pinten ? – Lha mantun blok sampeyan niku, benjing – benjing didandhosi bolak – balik nak, tapi nggih sae wingking – wingking rupane masjid. (Masjid Kupang Gunung dibangun berapa kali ? – Lha selesai jaman kamu itu, besok – besoknya diperbaiki bolak – balik nak, tapi ya bagus yang belakang – belakang[yang paling akhir] rupanya masjid).
13. Petungan pundhi mbah ingkang sae ? – Pokoke liyane pitungan Ajisoko niku pun bener. (Perhitungan mana mbah yang bagus ? – Pokoknya selain perhitungan Ajisoko itu sudah benar).
14. Menggah nggangge mbah ? – Salah. Kufur. (Kalau menggunakan[ajisoko] mbah ? – salah. Kufur).
15. Benjing punopo mbah Bun ditimbali wonten ngersane Kang Moho Suci ? – Yen sedoyo anak putu Adam dereng purun ngibadah, kulo dereng angsal wangsul. (Kapan mbah Bun dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Suci ? – Kalau semua anak turun adam belum mau ibadah, mbah belum boleh kembali).

Disamping itu beliau juga menceritakan bahwa pernah bertemu dengan setan yang akan menjatuhkan Raden Aji dan beliau diturunkan jauh sebelum permulaan Amarta, sekitar Purworejo daerah Jawa Tengah. Sesudah cukup lama berwawancara, sekitar jam 16.00 mereka bermohon diri kembali ke Cangaan. Pagi harinya husnan kembali ke Surabaya sudah dalam keadaan sembuh yakni sudah dapat berbicara lagi seperti semula.

c.              Melanjutkan tugas.

Seperti telah disebutkan dimuka, bahwa Husnan harus mengunjungi tamu – tamunya yang telah datang di rumahnya pada suatu malam secara gaib itu. Ia telah melaksanakan sowan kepada tiga orang, yaitu abah toyib, mbah Abas dan Raden Muhammad Surya Alam alias mbah Bun. Tinggallah sekarang dua orang lagi yang belum dikunjungi yaitu mbah Sahlan dan mbah Hudlori.

Pada tanggal 8 Mei 1963 pagi hari Husnan meneruskan tugasnya menghadap mbah Sahlan di desa Sidorangu, Krian, Sidoarjo. Setelah bersalaman, ia disapa lebih dulu. “Sampeyan empun saking wetan nggih ?” (Kamu sudah dari timur ya ?). “Inggih” (Iya[sudah]). Jawabnya. Kemudian ia menanyakan perihal mbah Bun. “Mbah Bun niku yuswane leres 1800 tahun nopo 3500 tahun mbah ?” (Mbah Bun itu usianya benar 1800 tahun apa 3500 tahun mbah ?”). Jawab mbah Sahlan. “Nggih niku sing pantes 1800 tahun, nek 3500 tahun sing percoyo namung kulo kalih sampeyan thok”. (Yah itu yang pantas 1800 tahun, kalau 3500 tahun yang percaya Cuma saya sama kamu saja.”). Beliau melanjutkan : “Pangeran ndamel barang sing aneh – aneh niku sampeyan ampun gumun, pokoke sampeyan kerep ngriki insya Allah ndang hasil.” (Tuhan menciptakan sesuatu yang aneh – aneh itu kamu jangan heran, pokoknya kamu sering kesini insya Allah cepat terkabul.).

Kebiasaan mbah Sahlan sehari – hari ialah selalu berjubah, kulitnya putih lagi gemuk. Setelah bercakap – cakap seperlunya ia memohon diri untuk meneruskan perjalanannya ke Mojoagung menghadap mbah Hudlori. Jawab mbah Sahlan : “Empun ndang budhal” (Sudah, segera berangkat ! ).

Setibanya di rumah mbah Hudlori, ia dipersilahkan duduk. Tempat tinggal beliau di desa Klampok Arum, Betek, Mojoagung, dekat makam mbah Sayid Sulaiman (Kakak dari mbah Sayid Arif yang dimakamkan di Segoropuro, Pasuruan). Beliau memulai dengan kisahnya : “Sampeyan sing kulo jagani tombo banyu udan salah mongso sak botol niku dangune empun enten telung tahun” (Kamu yang sudah saya siapkan air hujan salah musim satu botol itu lamanya sudah ada tiga tahun), dan masih banyak lagi yang diceritakan. Sesudah itu ia ditinggalkan seorang diri untuk melakukan sholat. Selesai sholat beliau menemui Husnan kembali. Katanya : “Sakniki kulo sukani cekelan” (Sekarang saya beri pegangan), beliau berkata demikian sambil menyerahkan sebuah pusaka. Selanjutnya : “Maksude nek enten pekewuh sampeyan kelit mawon, akike niki minongko bupati, keris niki prajurite. Sampeyan ajak – ajak tiang supados sembahyang niku nggih empun perang sabil namine. Lha sedoyo niki tinggalane mbah Patah” (Maksudnya kalau ada bahaya kamu bawa saja, akiknya ini sebagai bupati, keris ini prajuritnya. Kamu ajak – ajak orang supaya sembahyang itu ya sudah perang sabil namanya. Lha semuanya ini tinggalannya mbah Patah, yaitu nama seorang wali dari Tulungagung.).

Setelah cukup lama pertemuannya dengan mbah Hudlori, ia memohon ijin pulang. Sampai di rumah sekitar jam 19.00 malam, kebetulan waktu itu penulis berkunjung ke rumahnya. Segala pengalamannya sejak awal hingga akhir dari hal perjalanan sampai pertemuannya dengan para wali diceritakan semuanya.

d.          Tugas terakhir.

Husnan telah melaksanakan tugas dengan sebaik – baiknya, yaitu pertama ia telah memiliki dua buah kitab suci Al – Qur’an, sebuah untuk isterinya dan sebuah lagi untuk dirinya. Tugas yang kedua ialah berziarah ke rumah tamu – tamunya yang pada suatu malam datang secara gaib di rumahnya. Tinggallah kini tugas yang ketiga atau yang terakhir yaitu menyuruh isterinya supaya membaca kitab suci Al – Qur’an sebanyak 60.000.000 (enam puluh juta) huruf Al – Qur’an. Seperti kita ketahui bahwa Al – Qur’an itu berisi 1.000.000 (sejuta) huruf, yang berarti pula bahwa isterinya harus mengkhatamkan Al-Qur’an sedikitnya 60(enam puluh) kali.

Pada tanggal 10 Mei 1963 jam 21.00 dengan mengucapkan bismillah disertai kesungguhan hati, ia memulai dengan tugasnya yang ketiga atau terakhir. Isterinya disuruh membaca Al – Qur’an, sedang dia sendiri siap untuk menyemaknya. Untuk ini tentunya dicarikan waktu yang baik dan terluang, sehingga dapat membaca dengan tenang, serta khusyu’, hadir hatinya dan penuh adab, tidak ada gangguan dari anak – anak atau kesibukan – kesibukan lainnya.

Sejak melaksanakan perintah tersebut, isterinya menyatakan bahwa ia tidak merasa malas ataupun kesulitan, bahkan terasa bibirnya ringan mengucapkan ayat – ayat Al-Qur’an, namun tidak mengurangi tajwid dan makhrojnya (tartil).

Begitulah kisah yang sesungguhnya terjadi yang dialami oleh sahabat saya ustadz Husnan dari Kupang Gunung Surabaya. Semuanya itu ia lakukan secara sadar, tidak gila ataupun terkena pengaruh setan. Pikiran tetap normal dan jasmani tetap sehat. Percaya atau tidak terserah kepada penilaian para pembaca. Adapun rangkaian cerita atau pengalaman – pengalaman berikutnya yang paska ilmiah yang dialami oleh Husnan maupun penulis sendiri tidaklah kami kemukakan lebih lanjut.


 


0 komentar:

Poskan Komentar